Cerita Secangkir Kopi

Ratusan pemuda pagi itu berkumpul di depan sebuah gedung berwarna putih beratap hitam dengan tinggi 5 lantai. Bukan! Bukan gedung putih kepresidenan Amerika Serikat. Mereka berbaris rapi mengenakan topi dan jas berwarna merah menghadap ke gedung yang didepannya terpampang banner sepanjang  5 meter dengan tinggi 1.5 meter bertuliskan SELAMAT DATANG DI PESMABA FEB UMM 2013. Hari itu adalah hari pertama para mahasiswa baru kuliah di UMM.

Mahasiswa Baru

Para mahasiswa baru itu menghadiri acara pembukaan yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang dengan antusiasme dan semangat ala Maba yang menggebu gebu. Mereka berbondong bondong datang dan berkumpul mengabaikan jam sarapan mereka untuk datang di acara pembukaan pada pukul 06:00.

Hari- hari pertama kuliah adalah hari dimana antusiasme mahasiswa sangat tinggi. Selayakya mahasiswa baru yang kaya akan rasa ingin tahu, bergabung bersama sebuah organisasi adalah hal yang diinginkan kebanyakan mahasiswa pada saat itu. Mereka berburu informasi, menghadiri open house, dan mengikuti kegiatan – kegiatan yang ada demi lebih mengenal organisasi tersebut.

Itu pula yang dilakukan seorang mahasiswa baru dengan kemeja rapi, rambutnya yang ikal dan kacamata dengan ketebalan bagai dasaran botol kecap menjadikan anak tersebut terlihat sebagai anak baik-baik dan pintar. Dia aktif menghadiri kegiatan maupun datang ke stan UKM, LSO, dan oraganisasi yang sedang Open Rekruinment. Dia Memgumpulkan brosur dan formulir pendaftaran dan mulai memilih. Dari beberapa stan yang dihadiri ada satu yang kebetulan menarik perhartiannya, yaitu Himpuan Jurusan Manajemen.

Pilihanku

 

Ya, Pemuda itu adalah aku sendiri. Ak tumbuh menjadi seorang pemuda dan memasuki dunia
perkulaihan untuk melanjutkan pendidikan di Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi. Harapanku terjun ke dalam dunia perkuliahan selain menuntut ilmu dan membuka wawasan adalah medewasakan pemikiran dan cara bersikap. Bukan! Bukan pikiran dewasa “menyimpang” seperti yang kalian pikirkan, tapi dewasa yang “lurus”.

Selagi masih menjadi seoarang mahasiswa yang masih berjiwa muda, aku ingin memuaskan rasa
penasaranku terhadap dunia perkuliahan. aku datangi stan-stan UKM yang ada. Pada akhirnya aku
menemukan sebuah stan yang terletak di basement gedung perkuliahan, sungguh terpencil dan hanya
ada sekelumit stan organisasi internal yang berada disana. Namanya tertulis di sebuah stand banner yang kusam. Banner yang seolah telah digunakan di periode sebelumnya itu bertuliskan HMJ Manajemem.

Pada akhirnya dari sekian organisasi yang ada aku menetukan pilihanku HMJ Manajemen. Sebuah organisasi internal yang berfungsi sebaga mediasi dan fokus melayani kebutuhan mahasiswa Manajemen secara akademik maupun non akademik itu berhasil mencuri perhatianku. Bersama teman temanku, kami mendaftar dan mengikuti diklat yang diadakan HMJ tersebut. Berharap kelak kami akan mampu menjadi tim yang hebat dan memberi perubahan pada organisasi intra yang satu ini.

CESKO

Malam telah tiba, gedung gedung perkuliahan mulai ditinggalkan, dosen dosen pulang meninggalkan kesibukannya, dan kepulan asap rokok di kantin mulai terganti dengan angin malam khas Kota Malang yang menyejukan. Para mahasiswapun mulai melakukan aktifitas kepemudaannya dimalam hari yaitu, rapat, nongkrong, main game, kencan, jalan jalan, kuliner dan lain lain.

Begitu pula aku bersama teman temanku, kami berkumpul di sebuah café kecil di sekitar kampus tepat jam 8:00 malam untuk mediskusikan sesuatu. Ya, sebagai anggota baru Himpunan Mahasiswa kami berkumpul bukan untuk sekedar bercerita. Kami berkumpul untuk saling berargumen ketika jadwal rapat memanggil kami. Café merupakan tempat pilihan kami untuk menuangkan ide dan argumentasi kami dalam menyelsaikan sesuatu persoalan.

Sebuah café beratapkan langit malam yang disinari gemerlapnya bintang bintang , sorotan cahaya rembulan yang indah dengan tiupan angin lembut dan sejuk menjadi tempat pilihan kami untuk berkumpul. Café pilihan kami adalah sebuah cafe dengan konsep outdoor dengan dua probabilitas. Kalau bukan kedinginan ya kehujanan. Cafe ini bernama CESKO atau Cerita Secangkir Kopi.

Namun dibalik dinginnya, tempat ini akan mejadi saksi bisu apa yang kami bicarakan, apa yang kami lakukan dan apa yang kami ceritakan disanding dengan secangkir minuman yang tak kunjung habis. Kami rela luangkan waktu, beradu argumen dan logika mulai dari jam 8:00 hingga tengah malam hanya untuk sebuah acaran yang tidak jelas hasilnya nanti seperti apa.

Bagi kami nama Cerita Secagkir Kopi bukan sekedar nama Café. Sesuai namanya disini adalah sebuah tempat yang memiliki banyak cerita dan kenangan di dalamnya. Sebuah tempat yang mampu memecah belah kami sekaligus menyatukan kami untuk saling berpendapat, beradu argument ataupun hanya sekedar berbagi cerita dan tawa.

Tiba Tiba Sepi

Kami berkumpul untuk membahas subuah konsep acara yang diberikan kepada kami secara mentah mentah untuk kami olah.  Event ini akan menentukan kekompakan kami dan akan menunjukan loyalitas para anggota baru kedepannya ketika menjabat sebagai pengurus. Ini aka menjadi sangat menentukan bagi kami, karena kami semua hanyalah kumpulan pemuda yang baru saja lulus SMA tanpa mengenal satu sama lain dan akan beradu argument.

Event ini merupakan event pertama yang kami pegang. Kami tak ingi menyianyiakan kesempatan pertama kami. Ambisi menjadikan acara ini berbeda dan lebih baik dibanding konsep acara tahun sebelumnya kami genggam erat-erat.

Malam demi malam  kami lewati bersama untuk menyusun sebuah konsep talkshow. Denga memupuk harapan dan ekspektasi yang tinggi terhadap sebuah acara, kami habiskan tenaga dan pikiran yang seiring berjalannya waktu mengikis habis batas sabar kami. Cerita dan tawa yang awalnya menghangatkan forum kami, hangus terbakar karena bara ambisi. Menyisaka hanya dingin dan sepi.

Apa daya usaha kami apa bila tim yang kami bangun rontok satu persatu dan tinggal menyisakan tak lebih dari 10 orang. Walau begitu ambisi memaksa kami untuk melanjutkan konsep ini. Merangkap lebih dari 1 sie adalah satu satunya jalan agar acara ini berjalan baik. Bahkan seorang ketuapun ikut turun tangan hampir di setiap sie dalam kepanitiaan tersebut.

Kami yang tersisa hanya berjumlah kurang dari 10 orang berusaha mengkonsep sebuah Talkshow bersekala nasional dengan dana yang sangat terbatas pula. Ya! Entah apa penyebabnya, belum satu semester lamanya kami bergabung, kami sudah banyak kehilanga anggota. Mungkin bara ambisi ini terlalu panas untuk kami genggam.

Kembali Bersama

Namun seiring berjalanya waktu dan progress yang kami lakukan, diwaktu yang bersamaan kami berhasil mulai merangkul kembali kawan kawan kami sedikit demi sedikit. Melihat ciri payah kami, satu persatu anggota kami mulai bangkit kembali. Rapat yang sebelumnya sunyi senyap,  menjadi hidup kembali.

Canda tawa dan saling peduli kembali mengisi sepi dan menghangatkan forum yang dingin. Pada akhirnya kami mampu mengumpulkan sedikit masa dengan anggota per sie satu hingga tiga orang. Dengan tim yang mulai terbentuk. Kami jalankan konsep yang kami buat dengan anggota baru kami.

Pada akhirnya setiap unsur yang kami butuhkan melengkapi ruang kosong diantara kebersamaan kami. Kawan, senior dan dosen dosen memberikan kontribusi yang berarti bagi kami kala itu. Dengan segala niat dan usaha yang kami tuangkan dalam acara tersebut, kami berhasil melaksanakan Talkshow tersebut sesuai konsep kami.

 

Leave a Reply