fbpx

Mahasiswa Semester Tua

Setelah sekian lama aku menginjakkan kaki di kampus tercinta UMM sejak tahun 2013, tahun demi tahun tak terasa aku lalui bersama teman temanku. Tiga tahun berlalu begitu saja. HMJ Manajemen yang sempat menjadi lahan perjuangan bersama teman teman sudah 1 tahun yang lalu ak tinggalkan. Bukan karena ak sudah jenuh denga berbagai konflik yang menerpa kami selama kami menjadi anggota hingga menjadi pengurus. Tetapi masa jabatan kami memang hanya dua tahun. HMJ Manajemen adalah satu satunya HMJ yang berhasil memangkas kepengurusan empat tahun menjadi dua tahun pada saat itu.

Semangat Mahasiswa Semester Tua

Sekarang kami memasuki tahun ke empat. Ya! Masa yang kami nantikan telah tiba. Satu masa dimana apa yang kita pelajari dalam tiga tahun akan segera diuji dengan menyelesaiakan sebuah karya tulis ilmiah. Karya ilmiah yang ceritanya telah melegenda sejak zaman kerajaan mojo pahit hingga sekarang. SKRIPSI! Itulah namanya. Namanya begitu melegendan dengan kisahnya yang pernah terdengar sejak sebelum kami menginjakan kaki di kampus ini.

Tidak termakan isu, awal tahun itu kami dengan semangat membara berlomba lomba untuk mematahkan kisah kisah yang telah melegenda. Kami rajin mengikuti setiap rentetan prosedur yang harus ditempuh sebelum skripsi. Bahkan judul dan tema sudah kami pikirkan matang matang sebelum kami mengetahui siapa dosen pembimbing kami.

Hingga akhirnya datang hari dimana SK bimbingan akan segera di bagikan. Didalam sebuah aula yang berisikan ratusan mahasiswa menghadiri sebuah acara pengarahan skripsi. didepannya berdisi sebuah photo booth dengan tinggi 3 meter dan lebar  4 meter bertuliskan ” Pejuang Skripsi”. Disitulah SK kami akan segera dibagikan. Diakhir acara  satu persatu nama kami dipanggil maju kedepan aula untuk mendapatkan SK bimbingan yang akan menentukan siapakah yang akan mejadi pembimbing kami.

Surat Kuasa

Detik detik itu cukup mendebarkan para pejuang skripsi. Para pejuang maju kedepan sesuai nama yang telah dipanggil dengan harap harap cemas. Sedikit rasa khawatir, penasaran, tidak sabar menjadi satu bagai kopi instan Kapal Aki 3in1. Namun tidak denganku, entah apa yag salah dengan diriku, hari itu aku merasa lebih tenang dari pada yang lain. Aku menunggu namaku disebutan begitu lama. Ketika hampir semua nama mahasiswa sudah disebutkan, akhirnya giliran namaku dipanggil.

Dengan santai aku maju kedepan dan aku ambil sepucuk surat bersetempel resmi dari Fakultas Ekonomi yang masih tertutup rapat. Setelah acara pembagian SK berahir kehebohan terjadi. Terlukis diwajah sebagian dari mereka ekspresi kekecewaan setelah membuka dan membaca surat tersebut.

Detik detik itu aku masih merasa santai dengan sedikit rasa penasaran. Aku buka SK yang aku dapat dan tertera nama kedua dosen yang fenomenal. Sentak terlukis senyum di bibirku sekaligus berbisik dalam hati

“Mampus aku”

Ya! Senyum itu ak tunjukan untuk menertawakan nasibku pada saat itu yang mengenaskan. Mendadak aku menjadi lebih gelisah disbanding kawan kawanku yang lain. Tiba tiba seorang teman menghampiriku dan anggap saja dia Pencit.

“ Oyy Je gimana ?

“Gimana apa nya?” Jawabku pura pura tidak tahu.

“Yaaa pembimbingmu dapat siapa?” Tanya dia sambil merampas surat yang ada digenggamanku.

Sesaat setelah dia membaca surat yang dia rampas tiba tiba dia sempat terdiam beberapa detik.

“Yang sabar *puk puk..”  Kata dia secara lirih sambil menepuk bahuku, berusaha meneguhkanku.

Nama kedua dosen tersebut sudah melegenda, melekat bersama istilah skripsi itu sendiri di program studi kami. Mereka dikenal sebagai dosen yang selalu beradu argumen. Jalan berfikirnya takpernah sama. Sesekali mereka saling menyudutkan satu sama lain. Mengumbar kekesalannya satu sama lain kepada para mahasiswa yang dibimbingnya.

Berutung

Hanya mahasiswa mahasiswa tertentu yang beruntung dan dapat merasakan sensasi berada diantara kedua dosen tersebut. Termasuk aku sorang mahasiswa semester tua yang diberi kesempatan merasakan hal yang belum tentu dapat dirasakan mahasiswa lain. Tak jarang kami mendengar curhatan-curhatan mereka di kelas ketika bimbingan kolektif. Mereka saling sindir satu sama lain di depan kami dan kami hanya bisa mengangguk mendengarkan mereka.

Kawan kawan mengibaratkan bagai api dan air. Sedangkan aku mengibaratkan bagai api dan minyak. Seseorang berperan sebagai objek yang membakar dan yang lain sebagai bahan bakar yang akan memperbesar kobaran api. Dua perpaduan sempurna untuk membakarku hanis karya tulisku ditahun ke-empat ini.

Sejujurnya kedua dosen ini cukup baik dan mereka juga mengenal baik aku sebelumnya. Namun niat mereka yang terlalu baik kepadaku selalu berahir tragis dimasa masa itu.

“Je coba kamu cari jurnal ini, kamu kan punya wawasan di bidan teknologi dan informasi.” Dosen A memberi saran kepadaku dengan mempertimbangkan latar belakang pendidikan ku sebelumnya.

“Lho ini bukan bidangmu, belum waktunya kamu meneliti ini. Dari pada kamu kesusahan lebih baik kamu coba cari objek dulu aja baru dicari permasalahanya.” Dosen B menjawab sekaligus menyampaikan niat baiknya meringankan penelitianku.

“LHAA??? Kalo kamu cari objek perusahaan, apa kamu yakin perusahaan mau memberikan datanya yang asli? Saya rasa perusahaan gak bakal mau memberikan data data seprti ini. Lantas validitas datanya siapa yang bisa jamin. Kamu coba cari jurnal  uji teori.” Dosen B mulai memberikan argumennya.

“UJI TEORII?? Kamu mau meneliti berapa perusahaan? Uji teori itu setara tesis, jagan pakai itu. Saya ini mau bantu kamu, coba kamu cari objek dulu! Biar objeknya gak banyak banyak.” Tanggapan dosen A.

Yaahh, kayak gitu aja terus samapai ladang gandum dihujani meteor coklat dan jadilah Koko Crunch. Aku terus berusaha mencari objek dan jurnal seperti apa yang mereka perintahkan. Namun usaha ini tidak kunjung membuahkan hasil. Empat atau lima kali aku ajukan judul semuanya berakhir dengan penolakan di salah satu pihak. Dimana setiap judul yang aku pilih selalu kusiapkan jurnal jurnal internasional yang sudah aku pelajari sebelumnya selama berhari hari.

Ditinggal Lulus

Perjuangan seorang mahasiswa semeter tua ini tak kunjung membuahkan hasil. Aku yang jenuh mulai mengurangi intenstas bertemu dospem atau dosen pembimbing. Pada akhirnya semangat perjuanganku yang baru sampai judul dan jurnal akhirnya kandas juga Aku berhenti mengerjakan tugas akhirku. Setiap hari ak pergi ke kampus bukan untuk bimbingan melaikan mengisi waktu luang sebagai Partimer di Laboratorium Manajemen. Melayani  mahasiswa dan dosen praktikum di sana.

Minggu demi minggu berlalu begitu cepat. Kawan kawaku yang masih memegang teguh api semangat ditangannya mulai membuahkan hasil. Mereka satu persatu sudah selesai mempresentasikan proposal penelitiannya. Bahkan hampir semua partime juga sudah menyelsaikan proposalnya. Sedang kan aku tetap berdiam diri dan tak peduli.

Satu semester aku tak mendapat apa apa. Satu persatu teman temanku mulai mendaftar wisuda. Sedangkan aku terjebak dalam lingkaran topik dan jurnal. Ak bersama beberapa kawanku bernasip sama. sama sama mendapat “keberuntunga”. Hingga pergantian semester kami belum juga mendapatkan judul. Gagasan kami selau bertepuk sebelah tangan. Bahkan anak yang selalu bimbingan juga tak mampu berkutik menghadapi “keberuntungan” ini.

Kembali Bangkit

Hingga suatau hari aku bertekat menemui kembali dosen pemimbingku. Aku mulai mencari jurnal internasional dan mempelajarinya selama beberapa hari beserta teorinya. Hari itu ak siapkan diriku bersama dengan jurnal jurnal yang aku persiapkan dan sudah aku pelajari. Belum sempat ak berbicara sepatah kata, dospemku sudah menolak mentah mentah apa yang belum aku sampaikan.

Namun aku belum menyerah. Semangat memaksaku untuk tetap berargumen, berusaha menyampaikan ide ide yang terpendam. Akhirnya usaha membuahkan hasil. Ya! Hasilyang sama saja dengan sebelumnya, yaitu penolakan. Tak ada kesempatan yang diberikan agar aku bisa berargumen, yang ada hanyalah perintah yang halus tapi tak terbantahkan.

Yahh akhirnya aku merasakan juga apa yang telah dirasakan oleh pendahulu pendahulu kami sebelumnya. Kawan kawanku mulai wisuda dan aku masih bergelut dengan judul. Hingga diantara sahabat sahabatku dan rekan rekanku di HMJ lulus dan pergi begitu saja. Mereka berhasil meyelesaikan jauh lebih cepat disbanding aku. Diiantara kami hanya tersisa aku dan sebagian kecil dari kawa kawanku.

 

Leave a Reply