Menyendiri Bukan Berarti Tak Peduli !

Aku adalah seorang anak laki laki satu satunya di keluargaku. Anak nomer 2 dari 3 bersaudara. Ya! aku memiliki seorang kakak dan seorang adik mereka semua adalah perempuan. Berbeda dengan kedua saudariku, aku adalah seorang anak yang pendiam dibanding dengan mereka. Ketika mereka bebas mengekspresikan diri mereka aku hanya diam dan mengamati keadaan sekitar. Berusaha memahami sesuatu. Entah apa itu mungkin hal yang dianggap sebagian orang tidak peting.

Aku dilahirkan dengan sifat bawaan pendiam dan tertutup. Aku adalah seorang anak yang berkepribadian Introvert. Sifatku itu bukan tumbuh ketika aku mulai dewasa. Melainkan sejak aku masih anak anak dan belum berumur 3 tahun.

Kedua orang tuaku mengetahuinya ketika suatu hari kita sedang berada di sebuah kereta menuju sebuah kota. Mereka meletakkanku bersama kakakku di tengah gerbong kereta dan meningalkan kami disana. Dari kejauhan mereka mengamati apa yang kami akan kami lakukan berikutnya.

kakakku yang memang lebih terbuka dengan sifat extorvert melekat pada dirinya dengan cepat membaur dengan penumpang lainnya dan berlarian kesana kemari. sedangkan aku hannya duduk terdiam ditengan jalanan gerbong itu sambil mengamati apa yang dilakukan kakaku.

Selajutnya aku tumbuh menjadi anak yang lebih pendiam dibanding dengan saudarai saudariku. Aku pendiam bukan berarti aku tidak bersosilisasi dengan lingkungan sekitarku. Aku hanya membutuhka waktu untuk menenangkan diriku lebih banyak dari anak kebanyakan.

Introvert adalan kepribadian yang hanya dimiliki sebagian orang saja. Mereka dianggap kaum minoritas apa bila dibanding dengan extorvert. Walau demikian aku merasa tetap bisa membaur bersama yang lain.

Kehidupanku

Sekarang aku sudah berumur 23 tahun. selama itu aku adalah anak yang tidak terlalu terbuka keculai kepada orang yang sudah benar benar dekat denganku. Aku pun lebih menyukai ketenangan dibanding duduk ditengan kerumunan khalayak ramai. Selama 23 tahun aku meliht banyak fakta di sekitarku tentang perilaku perilaku dalam kehidupan sosial. Semua itu terjadi hanyalah tentang perbedaan dan ketidak mengertian.

Aku mulai memahami apa itu introvert dan extorvert ketika aku duduk di bangku SMK. Sejak saaat itu aku mejadi paham bahwa aku berada di kubu introver. Cara bersikapku dalam menghadapi keramaian dan lebih menyukai ketenangan meyakinkanku berada di kubu mana.

Aku melihat bagaimana orang memperlakukan kami. Mereka yang tidak paham akan perbedan karakter manusia menganggap sebagian dari kami orang orang yang aneh, kurang peduli dengan lingkugan, tidak mau membaur. Walau demikian aku hidup membaur diantara kedua kubu ini ketika SMK menjadikan aku paham pandang kedua pihak ini.

Namun tak semua anak dengan kepribadian sama denganku bisa bersikap yang sama, sehingga mereka tak jarang menjadi bahan omongan di sekolah.

Mereka yang Menyendiri

Apa yang kawan kawanku pahami tentang introvert adalah salah. Menurutku sah sah saja ketika seseorang membutuhkan waktu sendiri lebih banyak dari yang lain. Mereka hanya membutuhkan ketenangan. Banyak orang beranggapan diam mereka diartikan tidak peduli. Tapi mereka salah. Dibalik diamnya mereka melihat, mendengar, mempelajari, dan merasakan. Hanya saja mereka tidak mengerti apa yang harus diperbuat.

Kaum introvert ini bisa jadi lebih memahami dan dapat menyimpulkan keadaan disekeliling mereka lebih baik daripada extorvert. Beberapa kali aku mengetahui bahwa ketika aku berkumpul dengan minoritas meraka bisa memahami dan bisa menyimpulkan sesuatu yang terjadi dengan orang lain secara objektif. Mereka paham apa yang terjadi dilingkungan mereka.

Bahkan tidak jarang aku menemui anak yang mampu memprediksi  dan memahami masalah yang dialami teman mereka tanpa perlu membaur berlama lama. Hal  ini menjadi salah satu keunggulan Introvert. Tak jarang kami menjadi teman bercerita teman teman kami yang notabenya adalah mayoritas dikarenakan kemampuan analisa para minoritas ini.

DIskriminasi

 

Akan tetapi diskriminasi demi diskriminasi terjadi pada saat aku SMK. Sempat aku berfikir bahwa mayoritas akan selalu berlagak semaunya menyingkirkan yang berbeda dari mereka. Sedangkan yang minoritas akan semakin menjauh dan menyendiri. Namun lambat laun aku sadar bahwa yang sebenarnya membatasi mereka adalah ketidak saling memahami.

Mereka yang mayoritas tidak memahami apa dampak dari sifat diskriminasi mereka. Mereka sendiri juga tidak faham bahwa yang mereka fikirkan tentang minoritas ini adalah salah.

Mereka menganggap introvert adalah orang yang tidak bisa bersosilisasi, suka menyendiri, cara berfikiryang aneh, tidak bisa bergaul, tak peduli dengan sesama.

Padahal berdasarkan pengamatan dan pengalaman. Orang Introvert bisa jauh lebih peduli dibanding yang lain. Dibalik diamnya mereka berusaha memahami apa yang terjadi disekitarnya, hanya saja mereka tak tau harus berbuat apa.

Mereka juga suka berbagi dengan hal yang menurut mereka penting atau menurut mereka jauh lebih berharga. Mereka memang tidak suka berada dikerumunan. Namun jika mereka tidak bersosilisai sama sekali malah membuat mereka semakin tertekan.

Mereka menyendiri karena mereka lebih membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Jika terlalu lama dan sering berada di keramaian mereka sendirilah yang akan tertekan dengan hirup pikuknya suasana.

Perilaku Merusak

Jika ada diantara kita ada yang berbeda bukan berarti mereka tidak layak berada disekililing kita. Malahan dengan sikap diskriminatif yang dilakukan mayoritas akan bersifat destruktif terhadap kepripadian minoritas tersebut. Orang dengan kepribadia introvert tidak hanya akan membeci lingkukangn mereka, melainka diri mereka sendiri karena perbedaan terbut. Kasus ini sering terjadi di lingkungan masyarakat kita.

Beberpa kali aku menemui orang orang introvert emosinya tertekan dikarenakan lingkungan yang sangat destruktif. Teman temanku yang sebagian minoritas makin tidak peduli dengan lingkungan mereka yang seringkali menyudutkan mereka. Pada akhirnya kritikan kritikan yang terus diberikan oleh myoritas tidak dihiraukan sama sekali.

Sedangkan masyarakat introvert serpertiku terkadang lupa bahwa mereka memiliki kepribadian yang dimiki hanya sebagian orang. Mereka terlalu sibuk dengan diri mereka sendiri dan mengamati lingkugan mereka dan lupa bahwa meraka juga bagian dari lingukan mereka.

Ektovert selalu menginginkan respek dari orang orang disekitarnya dan menyudutkan yang tidak peduli dengan mereka. Sedangkan Introvert yang lebih menyukai ketenangan semakin tersudutkan oleh extorvert dan memilih menjauh agar diri mereka tenang.

Keseimbangan

Apa yang aku pahami bahwa tidak ada seseorang yang mutlak berkepribadian Extorvert maupun Introvert. Setiap orang akan selalu memiiki kedua sifat ini. Hanya saja sifat mana yang lebih dominan.

Seorang Extorvert pada saat tertentu akan menjadi introvert dan menutup dirinya, menjauh dari keramain menenenagkan diri sejenak dalam kesunyian. Begitu pula introvert akan menjadi seorang yang extorvert jika bertemu dengan orang orang terdekatya, menunjukan dirimereka sebenarnya.

Berdasarkan pengalamanku pribadi aku beranggapan bahwa setiap orang introvert harus mecoba memahami mayoritas dan berusaha menyesuaikan diri dengan mereka agar tidak semakin disingkirkan.

sedangkan extorvert juga harus mengerti dan memposisikan diri menjadi kelompk minoritas. Walaupun kita tidak bisa menyeberang ke kepribadian yang berbeda dari kita, setidak nya kita bisa mengimbangi kepribadian kita. Introvert harus mencoba mengurangi ketertutupanya dan yang extorvert berusaha menahan cara berbicara dan cara bersikap. Agar semuanya saling mengimbangi

 

Leave a Reply