fbpx

Pilihan

Aku adalah seorang anak dari seorang dosen tehnik mesin di universitas swasta di Kota Malang. Salah satu hobiku dikala anak anak adalah bermain Video Game di kompuer. Hobi itu suda aku geluti sejak aku masih SD. Saat aku kicil aku sudah mengenal komputer, dan ketertarikanku terhadap game memaksaku untuk memahami komputer itu sendiri. Mulai dari bahasa inggris dasar hingga komponen komponen yang ada di komputer aku pahami melalui hobiku.

Akhirya hobi masa kecilku membawaku kedunia komputer. Ya! aku mengambil Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan saat aku duduk di bangku SMK. Tahu tahun berlalu dan dan tiba saat nya aku mmelanjutkan pendidikanku. Aku mengambil jurusan Manajemen Ekonomi di Universitas Muhammadiyah Malang.

Disini jenjang pendidikanku mulai terlihat kekacauannya. Anak dari seorang dosen tehnik mesin, meyukai komputer, SMK TKJ, dan Kuliah di Manajemen Ekonomi. Entah apa korelasinya ketika aku mendaftar kuliah aku tertarik untuk belajar di Jurusan Manajemen Ekonomi. Hal ini lah yang akan menjadi tantaganku kedepannya.

Dilema

Kata orang Hidup adalah sebuah pilihan. Memang benar, dimana di setiap pilihan itu memiliki sebuah kosekuensi yang akan menjadi misteri. Sebua kosekuensi yang nantinya harus diperjuangkan.

Masuk ke SMK bukan karena aku tidak ada pilihan. Sejak aku lulus dari SMP aku sudah berniat untuk mendaftar di SMK. Aku mmenyeleksi Sekolah sekolah kejurun di Kota Malang yang menarik bagiku.

Sebelum aku mendaftar ke sekolah sekolah tersebut, orang tuaku mengarahkanku untuk tes minat bakat. Tujuannya adalah mengetahui minat yang cocok denganku. Test dilaksanakan di sebuah unit minat bakat milik kampus swata tempat ayahku bekerja. Bukan karena promosi, tapi karena GRATIS.

Test sudah aku tempuh. beberapa hari kemudian hasil test tersebut keluar. hasilnya mengatakan bahwa minat bakatku ada di kedokteran.

Tentu saja itu mengejutkanku. Aku yang lulusan SMP berniat untuk meneuskan di SMK jurusan TKJ  mendapatkan hasil tes yang mengatakan aku memiliki minat di bidang kedokteran. Lebih mengheranka lagi hasil test sampai aku lulus kuiah tak pernah aku melihatya.

Berusaha aku mengingat apa yang sudah aku kerjakan, pertanyaan pertanyaan itu aku jawab dengan hal yang berhubungan dengan IPA dan Fisika diantara pilihan pilihan yang . Walaupun tidak ahli di kedua pelajaran tersebut, tetapi itu merupakan pelajaran yang aku suka selain komputer. Mungkin itu sebabnya minat bakat ku mengarah kesana.

“Tidak masalah apa bila masih tetap berminat melanjutkan di SMK jurusan TKJ. Ini hanya sebuah tes, tidak meentukan apa apa” Kata Psiketar yang menanganiku kepada kami.

Akhirnya hasil test minat bakat yang aku tempuh kami hiraukan saja dan fokus dengan SMK yang aku minati.

Dari beberapa SMK yang aku minati akhirnya aku memilih di SMKN 8 Malang. Karena apa daya Sekolah sekolah yang aku tempatku medaftar terlalu jauh dan sulit di akses.

Tiga tahun aku aku menuntut ilmu disana aku mendapat banyak pengetahuan mengenai komputer. Walau aku tidak menjadi seorang yang mahir, apa yang aku dapat disana sesuai harapan. Tapi selulusnya aku dari sana, ada hal yang merasuki pikiranku. Ya! sebuah ide untuk beralih ke jurusan lain saat aku mendaftar kuliah.

Ide itu muncul ketika melihat kawan kawanku fokus pada laptop masing masing di setiap waktu istirahat, waktu luang, pelarana, bahkan pulang sekolah. Aku hanya khawatir dengan sifatku yang lebih tertutup akan terbangun menjadi sifat yang semakin apatis terhadap linkungan.

Bersiteguh untuk konsisten, aku mendaftar di beberapa PTN dengan jurusan yang linier, Tehik Informatika. Aku sudah mendaftar di beberapa PTN namun belum membuahkan hasil. Tidak mencoba untuk melalui jalur mandiri aku akhirnya mendaftar di Universitas Muhammadiya Malang.

Saat aku mengisi formulir pendaftaran entah apa yang terlewat dalam pikiranku. Rasa penasaranku tentang ilmu ekonomi dan Manajemen perusahaan yang sebelumnya pernah muncul, disaat itu muncul kembali. Disaat itu aku menukar pilihanku. Tehnik informatika dipilihan kedua dan Manajemen di pilihan pertama.

Hasil pendafaran akhirnya keluar juga dengan menyataka bahwa aku diterima di Program Studi Manajemen.

Rasa ragu untuk meneruskan kuliahku di sini denga program studi Manajemen dan sebuah Universitas yang tidak terpikirkan olehku sebelumnya akhirnya muncul.

Apakah aku perlu bekerja mencari pengalaman dahulu sebagai lulusan SMK atau meneruskannya dengan jurusan yang berbeda. Hal ini sebelumnya sudah aku diskusikan dengan beberapa orang. Kedua orang tuaku juga sudah mempercayakan segala pilihan kepadaku.

Memilih

Seolah disaat itu aku yakin bahwa ilmu itu luas dan dalam mempelajarinya takperlu menjadi linier. Aku pun melajutkan prose registrasi. Muncul beberapa masalah pendaftaran dikarenakan regirstrasi aku lakukan di gelombang tiga sedangkan aku diterima di gelomban kedua. Ya! Untuk memutuskan lanjut kuliah di UMM aku berfikir terlalu lama dan melewati batas waktu pendaftran.

Masalah masalah tersebut membuat keraguanku muncul kembali. Sempat terbesit dalam piiranku untuk bekerja terlebh dahulu.

Namun ditengan perjalanan aku melihat seseorang dengan perawakan agak bungkuk, rambut beruban, dengan nafas yang sedikit terengah engah mencoba menghentiakan sepeda motorku. beliau meminta tolong untuk mengantarkan beliau kesuatu tempat. Karena rasa ibaku aku bersedia mengatar orang asing tersebut yang lokasinya searah denganku.

Diperjalan kita berbincang bicang dan aku menceritakan bahwa aku sedang mendaftar di UMM. Setelah tiba di tempat tujuan beliau berterimakasih.

“Makasih ya nak, semoga sampean di terima di UMM” ucap orang asing tersebut sambil mendoakanku.

Hari dimana aku ragu dan berfikir untuk melepaskan penawaran di UMM seolah olah terjawab sudah. Firasatku akan dipermudah perihal registrasiku di UMM, dan ternyata benar. Langkah demi langkah mulai terbuka dan akhirnya aku resmi diterima sebagai mahasiswa UMM.

Memulai Hal Baru

 

Kuliah telah dimulai. Hari demi hari berlalu. Aku yang anak lulusan SMK TKJ mulai beradaptasi dengan matakuliah ekonomi dan bisnis. Mempelajari teori dan studi kasus sudah menjadi maeteri pokok hampir di setiap mata kuliah.

Semua terlihat tidak terlalu buruk bagiku dengan basis orang tehnik. Walau basis ku adalah orang teknis dan lebih muda mempelajari sesuatu secara prektek tidak menghalangiku di jurusan manajemen ini.

Sampai suatu saat aku menghadapi mata kuliah Akuntansi dasar. Dari semua mata kuliah menurutku Akuntansi dan keuangan tidak bisa diremehkan. Aku yang tidak memiliki dasar akuntasi sama sekali harus cepat beradaptasi dengan mata kuliah tersebut.

Hari demi hari berlalu semakin cepat. Ketinggalanku terhadap matakuliah ini semakin jauh. Walau aku mampu menyelesaikan mata kuliah ini, bukan berarti aku memahami apa yang aku kerjakan dan pelajari. Tapi seperti itu lah kehidupan perkuliahan.

Waktu terus berjalan berbagai kegiatan dalam kampus mulai aku ikuti. Dua tahun pertama aku bergabung di HMJ. Lanjut menjadi Asisten Lab.Komp FEB, Menjadi tim koordinator KOnsentrasi operasional, dan lanjut partime di Lab. Manajemen.

Diantar aktivitas aktivitasku, saat tahun ke dua aku mencoba mendaftar sebagai asisten di sebuah laboratorium yang di bawahi Universitaas secara langsunng
yaitu Lab.INFOKOM. persyarata sudah aku penuhi, tes Microteaching aku lakukan dan yang terahir adalah wawancara. Disini aku mendapat sebuah pertanyaan yang sampai sekarang aku mengingatnya.

“Lhoohh… Jadi ayah kamu dosen tehnik mesin, kamu lulusan SMK TKJ, Kuliah di Prodi Manajemen Ekonomi, Menjadi asisten di Lab.Kom FEB, dan sekarang mau ndafar di Lab.INFOKOM?” Sebuah petanyaan yang panjang dan tak terbantahkan diajukan oleh salah satu dari pewawancara.

Wajar saja aku di tolak menjadi asisten mengingat riwayat pendidikan dan aktivitasku di kampus yang tidak linier.

Empat tahun aku jalani dan selama itu dunia komputer masih melekat denganku.

“Broo.. Servis laptopku dong”

“Bisa disain grafis ndak? tolong disainkan dong”

“Mas ini HP ku kenapa ya?”

“Tolong dong laptopku lemot nih”

Itu adalah pertanyaan pertanyaan teman maupun dosen yang sering dilotarkan kepadaku. Selama empat tahun aku meladeni mereka bagai tukag servis laptop. Sebuah pekerjaa sampingan yang tidak berbayar.

Pada akhirnya aku membantu mereka. Ya! “Membantu” yang berarti tidak dibayar. Setidaknya wala bukan seorang ahli, ilmu yang aku mili bermanfaat bagi orang orang disekitarku.

Harapan di Setiap PIlihan

Sebuah pilihan riwayat hidup seperti ini yang menjadi tantanganku kedepan, aku anggap ini suatu keunggulan namun juga suatu kekurangan. Keuggulan karena memiliki beberapa cabang ilmu dan kekurangan karena ketidak kosistenan.

Banyak orang berhasil menyatukan dua konsep pendidikan yang berbeda di karir mereka. Itu juga yang aku harapkan degan pilihanku ini walau diperluka perjuanga lebih.

Aku berharap mampu memadukan ilmu komputer dan manajemen ekonomi. Sehingga kedua ilmu ini dapat aku implementasikan dan bermanfaat di kehidupanku kelak.

“Setiap pilihan akan memiliki resikonya sendiri. Namun disetiap pilihan selalu tersimpan sebuah harapan dan cita cita. Bukan berarti menghadapi kesulitan karena pilihan yang kita buat menandakan itu sebuah kesalahan. Tapi itu bisa ku sebut Keyakinan dan Perjuangan”

Leave a Reply