fbpx

Putih dan Merah

bacainaja.com

Fajar Telah Terbit

Pagi itu fajar terbit seolah lebih cepat dari biasanya, membangukan khalayak ramai lebih dini untuk beraktifitas. Pagi itu telah membangunkan seorang anak laki-laki berkulit putih, berambut hitam rapi dengan mengenkan kaos  dan celana tidur yang baru dikenakan semalam setelah  bermain bersama teman temanya agar bergegas ke kamar mandi. Ya benar! Anak itu bukanlah aku, melainkan tetanggaku yang hendak bersiap berangkat kesekolah.

Sedangkan disebelah rumahnya adalah aku seorang anak laki laki dengan baju bermain semalam, berambut ikal, dan berkulit kecoklatan masih terlelap berbalut selimut lembut sambil berjalan jalan mengitari alam mimpi. Tiba tiba di pagi itu seorang pria berbadan tegap berkulit hitam, berambut cepak dan berkumis kasar tiba tiba datang ke kamarku dan membawaku yang sedang tidak sadarkan diri secara paksa ke kamar mandi dan dilucutinya bajuku. Tidak cukup sampai disitu, ak yang masih membuka separuh kelopak mataku tiba tiba melihat sebuah gayung mengayun kewajahku dan BYURRRRR!!!! disiramnya air tepat kewajahku.

Pria itu adalah ayahku. Hari itu para orang tua sangat sibuk. Terutama yang memiliki anak sebaya denganku, karena hari itu adalah penerimaan siswa baru Sekolah Dasar. Para orang tua sibuk memandikan anaknya bukan pasanganya, lalu meyiapkan bekal untuk dibawa dan mengantar anaknya ke  sekolah-sekolah dasar di Kota Malang.

Ya, Aku Lahir, hidup, tinggal, dan akan segera bersekolah di Kota Malang juga. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan 2 saudariku. Aku adalah anak laki laki satu satunya dikeluargaku yang akan segera duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu kakakku sedang duduk di kelas 2 SD di sebuah Madrasah Ibtidaiyan Negeri di Malang. Sedangkan adikku masih masih ngempeng dan berumur 2 tahun.

Saat musim penerimaan siswa baru Sekolah Dasar, ada 2 sekolah yang menjadi incaranku sejak aku masih di Taman Kanak Kanak. Pertama MIN Malang 1 tempat kakakku bersekolah dan SD Sabilillah sebuah Sekolah Dasar full-day di zaman itu yang dikenal tidak pernah memberikan Pekerjaan Rumah kepada siswanya.

Menghadapi Obstacle

Hari-hari itu adalah hari-hari yang sepesial bagi anak anak seusiaku. Kami berpakaina rapi dan wangi, memasuki setiap ruangan pendaftaran dengan antusiasme yang tinggi. Seolah kami memang yang paling pantas untuk mendaftar dan akan diterima di sekolah-sekolah harapan kami.  Setelah melakukan pendaftaran dan mengahadapi berbagai macam obstacle akhirnya aku berhasil diterima di SD Dharmawanita.

Hmmm… Ternyata niat baikku untuk masuk full day school dan tidak mendapat pekerjan rumah di SD Sabilillah gagal. Bahkan MIN Malang 1 tempat kakakku menuntut ilmu juga menolakku mentah mentah sejak awal.  Akhirnya aku mendaftar di SD Dharmawanita, sebuah SD swasta yang terletak tak jauh dari MIN Malang 1 dan namanya baru kudengar ketika aku mendaftarkan diri kesekolah tersebut.

Putih dan Merah

JRENGG!!! Akhirnya hari yang paling mendebarkan dan dinanti nantikan anak seusiaku telah tiba. Hari pertama aku masuk sekolah. Pagi itu aku bangun pagi dan bergegas berangkat kesekolah menghadapi dunia baru yang belum aku kenal. Kupakai kemeja putih merahku dengan sepatu honeypad hitam yang kedodran.

Seperti kebanyakan anak, aku berangkat kesekolah diantar orang tuaku hingga depan kelas. Sebelum memasuki ruang kelas kami diharuskan berbaris rapi di depan kelas dan masuk secara tertib. Disini ak sadar kami dilatih untuk disiplin.

Setelah melihat anak anaknya memasuki ruang kelas. Sebagian orangtua mengawasi dan menemani anaknya di koridor. Sebagian lagi satu demi satu meninggalkan koridor kelas setelah merasa anaknya baik baik saja. begitupula orang tuaku yang pergi untuk segera kembali ke rutinitas mereka.

Tiba tiba datang seorang guru perempuan, kulitnya putih bersih, wajahnya rupawan, senyumnya manis, pipinya merah merona, mengenakan baju rapi, dan kerudung hitam yang menutupi rambutnya menyapa kami dengan ramah. Merubah hari pertama sekolah yang tegang menjadi lebih tenang. Nama beliau adalah Bu Umi, beliau adalah wali kelas kami yang akan menjaga kami di sekolah selama setahun kedepan.

Setelah beliau memperkenalakan diri, giliran kami memperkenalkan diri di depan kelas satu persatu. Ku perhatikan anak anak tersebut satu persatu dan kudapati ada beberapa anak yang perawakan dan wajahnya tak asing bagiku. Ternyata sebagian teman temanku di rumah mendaftar ditempat yang sama. Hari yang tadi mendebarkan mendadak menjadi lebh cair karena teman- teman yang aku kenal ditambah guru yang super ramah.

Bosan

Saat jarum jam menunjukan angka 11:00 lonceng tanda kelas berakhir berbunyi kelaspun berahir dan guru pergi meninggalakan kelas. Siswa yang tadinya tertib, bubar sektika berhamburan keluar kelas untuk segera menemui orang tua mereka yang sudah menunggu di depan kelas.

Aku menoleh kekanan dan kekiri mengintai setiap orang tua yang belum bertemu dengan anaknya bagai elang, berharap ayahku menjeputku tepat waktu dan aku bisa segera pulang dan bermain. Namun ak bersama beberapa temanku tidak seberuntung anak anak lain yang orang tuanya sudah menunggu didepan kelas sebelum lonceng berbunyi. Kami harus menuggu didepan sekolah, berteduh di bawah atap kantor guru sambil melamun melihat kibaran Bendera Merah Putih di lapangan depan kantor.

Menaklukan Jalanan

Bosan menunggu ayah yang tak kunjung datang, tiba tiba terbesit dalam pikiranku untuk berjalan menuju sekolah kakaku yang jaraknya kurang lebih 500 hingga 700 meter dari sekolahku. Tanpa berfikir panjang aku mengemas barang barangku dan berjalan menuju sekolah kakaku berharap bisa menemukan kakakku disana.

Hari pertama ak sekolah adalah hari pertama ak berjalan sejauh itu menyebrang dan menelusuri jalanan perkotaan yang begitu luas dan ramai. Tanpa pertimbangan aku mulai  menyebrang jalan raya selebar 4 jalur di depan sekolahku dengan berlari. Untung saja aku selamat pada hari itu.

Setiba ak di sekolah kakaku, harapanku bisa bertemu dengannya pupus. Sekolah yang ak datangi ternyata lebih besar dari dugaanku. Ada beberapa gedung bertingkat dengan kelas kelas di setiap lantainya. Tak tau dari mana ak harus mencari, Aku pun memilih duduk didepan sekolah hingga ak tertidur dihalaman sekolah kakakku karena kebosanan.

Seperti anak tidak tau malu, dengan pedenya aku terlelap dihalaman sekolah orang dan menjadi tontonan anak anak dari atas gedung sekolah. tiba tiba ak didatangai bapak bapak yang mengenakan helem seperti penjahat-penjahat di tv. Ternyata dia adalah ayahku. Entah bagaimana dia menemukanku dia langsung membawaku pulang menuju rumah.

Namun itu bukan terahir kalinya aku hilang dari sekolah saat bosan menunggu jemputan. Suatu hari saat sekolah kami pulang lebih awal dikarenakan para guru harus mendatangi rapat, Aku bersama teman teman yang satu perumahan deganku mencoba memilih berjalan kaki dari sekolah kami menuju rumah yang jauhnya sekitar 7.5 Km.

Tentu kali ini akan menjadi masalah besar. Kami kumpulan bocah beringus yang berumur 6 tahun berjalan menelusuri jalanan perkotaan sejauh itu. Disisilain para orang tua kami mencari kami kesekolah dan sekitarnya tidak membuahkan hasil. Hal ini sentak menghebohkan orang tua beserta tetangga kami. Ya! hal ini membuat kami menjadi buronan satu perumahan.

Game Over

Ulah kami yang satu ini membuat warga satu perumahan kebingungan mencari kami. Jarak sejauh 3.5 Km sudah kami tempuh dan tiba tiba kami melihat sebuah mobil Curry tua berwarna  berwarna abu abu berhenti didepan kami. Di dalamya kami melihat seorang pria dengan wajah sangar dan berkumis tipis memaksa kami masuk. Bukan masuk ke bagasi tetapi masuk ke bagian kursi penumpang.

Ini bukan angkutan umum yang sedang mencari penumpang ataupun penculik anak kayak di filem Petualangan Serina. Dia adalah satu dari sekian orang yang sedang menelusuri jalanan kota untuk mencari kami. Dengan kondisi seperti baru saja berenang dari kolam keringat dan nafas yang ter engah-engah kami lansung masuk tanpa rasa bersalah mengharap belaskasih orang tersebut agar kami lekas tiba di rumah.

Ya benar saja setelah kami tiba dirumah, bukan segelas es sirup Makjang yang kami dapat sebagai wujud apresiasi mereka terhadap pencapaian kami menempuh jalanan perkotaan sejauh itu. Melaikan disidang warga sekomplek karena ulah kami. Mendadak kami menjadi trending topik di perumahan setelah apa yang kami lakukan. Yahh.. Hal ini wajar bagi mereka megingat yang kami repotkan bukan cuman orang tua tapi juga orang orang tua yang ada.

Leave a Reply