Asal Ususl, Cerita, dan Sejarah Candi Borobudur

Sejarah Candi Borobudur – Barabudur atau biasa disebut Borobudur merupakan sebuan candi yang didirikan oleh penganut Agama Budha Mahayana yang terletak di kota Magelang Jawa Tengah. Menurut sejarah, candi borobudur dibangun oleh seorang raja yang bernama Syailendra. Candi Brobudur juga dikenal sebagai Candi Budha terbesar di dunia.

Beberapa sumber menyatakan sejarah Candi Borobudur dimulai dan dibangun pada abad ke-8 ada juga sumber lain yang menyebutkan candi borobudur dibangun pada abad ke-9.

Candi borobudur sudah sangat dikenal di Indonesia bahkan dunia. Candi ini pernah dibatkan sebagai 7 keajaiban dunia oleh suatu lembaga yang bernaa UNESCO. Sekrang candi ini menjdi tepat wisata yang dikenal dan selalu ramai di kunjungi para wisatawan dunia maupun lokal.

Membahas lebih lanjut mengenai sejarah Candi Borobudur akan menambah wawasan mengenai zaman kerajaan di kala itu dan mengetahui majunya peradaban dalam hal arisitektur. Namun sebelum membahas lebih lanjut sejarah candi boro budur, akan berikut akan membahasn mengenai apa itu candi terlebih dahulu.

Pengertian Candi

Unsplash.com

Candi merupakan istilah dalam Bahasa Indonesia yang digunakan dalam meuju sebuah bangunan suci keagamaan peninggalan sejarah yang berhubungan dengan Agama Hindu dan Budha. Tapi pada implemtasinya istilah candi tidak hanya digunakan untuk mmenyebut situs situs tempat ibadah saja. Banyak situs-situs purbakala non-religius seperti istana (kraton), pemandian (petirtaan), gapura, dan sebagainya, juga disebut dengan istilah candi.

Candi di bangun dengan mereplika tempat tinggal para dewa yang diyakini masyarakat pada saat itu, yaitu Gunung Mahameru. Karena mereplika tempat tinggal para dewa, arsitekturnya dihiasi dengan berbagai macam pahatan dan ukiran yang disesuakan dengan alam di Gunung Mahameru.

Pesan pesan yang disampaikan di candi candi melaui komponen komponen candi seperti relief dan arca takpernah lepas dari unsur spiritualitas, daya cipta, dan keterampilan para pembuatnya. Beberapa candi seperti prambanan dan borobudur dibangun dengan ukiran ukiran yang megah dan detil pada zaman itu. Setiap kerjaan memiliki karakter dan keunikan dalam setip peninggalannya. Seperti kerajaan kutai dengan menara batuny yang disebut Yupa. Candi  juuga Memiliki estetika dari sudut pandang seninya. Dengan menggunakan teknologi yang ada pada saati itu kerajaan kerajaan mampu mendisain bangunan yang dianggap cuku rumit.

Etimologi Candi

ytimg.com

Diduga kata “cadi” Berasal dari salah satu nama perwujudan Dewi Durga sebagai dewi pencabut nyawa atau dewi kematian yang disebut “Candika”. Maka dari itu kata candi selalu melekat dega sebuah bagunan atau monumen untuk memuliakan raja yang sudah meninggal. contohnya candi Kidal untuk memuliakan Raja Anusapati

Namun ada penafsiran lain yang telah berkembang diantara penutur bahasa asing yang berada di luar negeri. Istilah Candi dinyatakan hanya merujuk pada sebuah bangunan kuno yang di bangun oleh kerajaan hindu dan budha sebagai peninggalan kerjaan di Indonesia dan Malaysia.

Sedangkan Soekmono, R menyatakan. “Antara abad ke-7 dan ke-15 masehi, ratusan bangunan keagamaan dibangun dari bahan bata merah atau batu andesit di pulau Jawa, Sumatera, dan Bali. Bangunan ini disebut candi. Istilah ini juga merujuk kepada berbagai bangunan pra-Islam termasuk gerbang, dan bahkan pemandian. Akan tetapi manifestasi utamanya tetap adalah bangunan suci keagamaan.”

Dalam sudut pandang Bashasa Indonesia, Istilah “candi” merupakan semua bangunan peninggalan kerajaan Hindu dan Budha di seluruh dunia dan dianggap sebagi bangunan yang bersejarah. Istilah ini digunakan untuk meunjuk objek objek bersejarah seperti seperti candi Angkor Wat di Kamboja dan candi Khajuraho di India. Istilah candi juga terdengar mirip dengan istilah chedi dalam bahasa Thailand yang berarti ‘stupa’.

Sekilas Mengeni Candi Borobudur

unsplash.com

Candi Borobudur merupakan sebuah Kuil Buddha yang merupakan salah satu monumen Buddha terbesar di dunia. berdasarkan sejarah candi borobudur dibangun pada abad ke-8 dan 9 M pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra.

Monumen ini terletak di kota Magelang, di bagian selatan Jawa Tengah, di pusat pulau Jawa, Indonesia. Sejarah Candi Boro Budur ini mencatat, candi tersebut ditinggalkan dan di abaikan antara abad ke-10 dan abad ke-15. Setelah beberapa abad kemudian candi terbsebut ditemukan kembali pada abad ke 19 dan mulai ditesorasi pada abad ke 20 oleh Indonesia dan UNESCO.

Dengan keagungan dan statusnya yang tecatat sebagai situs candi budha terbesar di dunia. UNESCO menempatkan Candi Borobudur pada daftar 7 Keajaiban Dunia.

Etimologi Candi Borobudur

etimologi

ytimg.com

Sejaran penamaan Candi Borobudur pada situs yang didirikan oleh kerajaan Syailendra tidak jelas asalmulanya. Seperti halnya candi candi lain di indonesia, kebanyakan tidak ada catatan pasti yang menyatakan nama candi tersebut. Nama tersebut didapat dari sebuah tulisan karya Sir Thmas Raffles. Dia menulis sebuah buku yang bernama “Sejarah Pulau Jawa” dan didalamnya diceritakan sebuah Monumen yang bernama Borobodur.

Namun tetap tidak ada dokumen lain yang menyatakan hal yang sama. Diantara sekian sumber hanya ada satu naskah jawa kuno yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1368 bernama Nagarakretagama. Buku itu adalah buku satu satunya yang membahas banunan suci Budha yang ugkin meujuk pada candi Borobudur.

Nama Borobudur yang sebelumnya ditulis “Bore-Budur” pada waktu itu ditulis merujuk pada sebuah desa terdekt dari situs tersebut yang bernama desa Bore (Boro). Seperti halnya candi candi lain yang dinamakan berdasarkan nama desa terdekat dari situs tersebut. Beberapa arkeolog menyatakan nama budur diambil dari istilah budha yaitu “Bhudara” yang g berarti gunung.

Namun masih banyak teori yang menyataka penamaan penamaan candi borobudur. Diantaranya sebeprti

Borobudur berasala dari kata “Sambharabhudhara” yang artinya gunug dengan lereg yang diatasnya ada teras teras.

Borobudur berasal dari kata “para Budha” yang kemudian terjadi pergeseran kata dan menjadi Borobudur.

Borobudur berawal dari dua kata “bara” dan “Beduhur”. Kata “Bara” beasal dari Vihara, ada juga yang menyatakan “Bara” dari bahawa sansekerta yang artinya Kompleks Candi atau biara. Sedangkan kata “Beduhur” berasal dari bahasa bali artinya adalah “tinggi” atau “di atas” sehingga artinya kompleks candi yang tinggi.

Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur.

Sejarah Candi Borobudur

Sejrh Candi Borobudur,

halodunia.co

Berdasarkan jenis aksara yang terukir, adalah jenis aksara yang lazim digunakan pada kerajaan abad ke-8 dan ke-9. Sehingga diketahui sejarah Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800 masehi. Data terebut sesuai dengan kurun waktu masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yaitu antara tahun 760 dan 830. Diperkirakan pembangunan Candi Borobudur memakan waktu antara 75 hingga 100 tahun untuk benar benar diselesaikan pada masa pemerintahan Raja Samaratungga pada tahun 825.

Pada kurun waktu tersebut berbagai candi banyak dibangun. Candi hindu maupun Budha pada itu dibangun di sekitar Dataran Kedu. pada Prasasti Canggal dijelaskan bahwa pada tahun 732 Masehi. Raja beragama Hindu Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shriwalingga yang berada sekitar 10 Km dari Borobudur kearah timur, tepatnya terletak di Gunung Wukir.

Selanjutnya sebuah candi dibangun pada kisaran tahu 850 masehi yang terletak di Dataran Prambanan yang sekarang dikenal dengan Candi Prambanan. Candi tersebut diperkirakan dibangun 25 tahun setelah pembangunan Candi Brobudur selesai.

Dalam sejarah Candi Borobudur ada beberapa ketimpangan ketimpangan fakta mulai dari asal usul nama hingga agama apa yang mereka gunakan Hindu atau Budha. Wangsa Syailendra diketahui sebagai penganut agaman Budha aliran Mahayana yang taat. Namun ada temuan lain yang menbantah hal tersebut.

Prasasti Sojomerto menjelaskan bahwa mungkin mereka beragama Hindu Siwa. Namun terlepas dari perbedaan itu hingga kini masyarakat pada umumnya meyakini Budha sebagai agama pada kerajaan saat itu.

Pembangunan candi candi Budha termasuk Candi Brobudur pada masa itu memungkinkan karena Raja kerajaan Medang atau Kerajaan Mataram pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepafda umat Budha untuk membangun Candi di dataran perambanan.

Untuk menunjuka kehormatannya pada komunitas Budha Panangkaran. Bahkan untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara.

Prasasti kalasan, sejarah candi borobudur

epigraphyscorner.blogspot.com

Hal itu telah disebutkan dalama Prasasti Kalasan berangka tahun 778 Masehi. Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa dalam sejarah Cadi Borobudur ada pihak lain atau kerajaan lain yang berkontribusi dalam pembangunannya.

Prasast tersebut membuktikan pada sejarah Candi Borobodur dan candi candi lain di Dataran Pramabanan, Agama tidak menjadi masalah yang dapat menuai konflik di kalangan masyarakat jawa kalaitu. Walaupun kerajaan Mataram masa itu beragama Hindu bisa menyokong dan menyuntik dana dalam pemangunan candi candi beragama budha.

Namun sekali lagi ada beberapa ketimpanagn seperti terjadi perselisihan antarna Syailendra yang menganut agama Budha dan yang penganut agama Hindu. Terjadi sebuah pertempuran antara Wangsa Sanjaya dengan Wangsa Syailendra, yang kemudian dimenangkan oleh Sanjaya pada tahun 856 di Perbukitan Ratu Boko.

Ketidak jelasan juga muncul pada pembangunan candi Loro Jonggrang di Prambanan yang merupakan respon dari Sanjaya untunk menyaingi Candi Borobodur. Dengan banyaknya ketimpangan data yang ada, banyak orang dan masyarakat yang tetap mempercayai suasana yangenuh degan toleransi beragama pada saat itu.

Hal tersebut di buktikan dengan kontribusi Wagsa Sanjaya yang merupakan kerajaan Hindu dalam pembangunan candi candi Budha dan hindu di jawa tengah. selain itu pihak syailendra juga terlibat dalam pembanunan Candi Siwa di Prambanan yang diketahui dari tulisan Roy .E Jordan.

Tahap Pembanguanan dalam Sejarah Candi Borobudur

Sejarah Konstruksi Candi Boroudur

zonesa.blogspot.com

Seperti yang diketahu sekarang bahwa Candi Borobudur adalah sebuah candi dengan beberapa stupa dan satu stupa induk di puncaknya. Namun berdasarkan sejarah candi borobudur, ada dugaan bahwa pada awal mula pembangunannya, Candi Borobudur adalah sebuah candi dengan stupa yang sangat besar memahkotai candi tersebut.

Namun dikarenakan masa stupa yang begitu berat dan volume yang begitu besar, akan membahayakan pondasi dan tubuh dari candi itu sendiri. Sehingga perancangan candi ersebut diganti menjdi seperti sekarang ini. Yaitu denga adanya tiga barisan stupa kecil dan satu stupa induk.

Berikut merupakan tahapan pembangunan yang tercatat dalam sejarah Candi Borobudur tersebut.

Sejarah Candi Borobudur – Pebangunan Tahap pertama

Diperkirakan masa pembangunan Candi Borobudur adalah sekitar tahun 750 hingga 850 masehi. Borobdur bukanlah sebuah candi yang di bangu merni mengunakan batu andesit.

Candi Borobudur awalnya menupakan sebuah bukit tanah yang di bungkus bebatuan andesit yang kemudian dipertebal lapisaaya hingga beberapa lapis. lalu dibangun diatas lapisan lapisan bebatuan tersebut dengan setupa setupa untuk membungkusnya.

Dari kontruksi tersebut dapat diketahui Candi Borobudur merupakan candi yang menyerupai sebuah cangkang raksasa yang membungkus sebuah bukit. candi borobudur dibangun di sebuah bukit yang kemudian diratakan dan disisakan sebagian untuk dijadikan sebuah bukit sebagai dasar untuk membangun candi tersebut.

Candi tersebut dirancang seperti sebuah piramida yang berundak-undak. namun pada proses pembangunannya mengalami perubahan. Ada bukti yang menguatkan pendapat bahwa Candi Borobudur berupbah konstruksi bangnannya, ada tiga undakan yang di bagian dasar yang dibangun untuk menutupi bagian candi awal yang berundak dan mirip dengan piramida.

Sejarah Candi Borobudur – Pebangunan Tahap kedua

Tahap kedua dari pembangunan Candi Borobudur adalah penambahan undakan Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak melingkar yang diatasnya langsung dibangun stupa tunggal yang sangat besar.

Sejarah Candi Borobudur – Pebangunan Tahap ketiga

Pada tahap ketiga ada mulai ada beberapa perubahan. Stupa besar yang berada ada puncak dibonkar dan diganti dengan tiga udakan dengan setupa setupa kecil dan satu stupa induk dipuncakya. Perubahan knstruksi bangunan tidak hanya terjadi di bagian pucak candi. namun dibagianbawah candi dilakukan rekonstruksi pondasi. Pondasi diperlebar dan dibual meapisi pndasi awal yang akhirnya menutupi relief Karmawibhangga.

Ada dugaan daam sejarah Candi Borobudur, pembangunan awal di disain sebagai 1 stupa raksasa yang berada diatas teras yang mirip dengan bujursangkar. Akan tetapi stupa raksasa tersebut terlalu besar untuk ditegakan diatas bukit tanah biasa.

Akibat terlalu besarnya stupa tersebut, berat dari stupa menekan bukit tanah dan merusa konstruksi podasi yang telah dibuat. Bukit tanah yang ditasnya diletakkan sebuah benda dengan masa yang tinggi maka akan tertekan dan mendorong keluar dari struktur banguanan awal.

Dengan alasan tersebut, konstruksi bangunan dirubah menjadi tiga undak undakan yang dikelilingi stupa stupa kecil dan diberi satu setupa induk dipuncaknya. Lalu bagian pondasi atau kaki kaki candi ditambahkan ktruktur kaki tambahan yang berfungsi menahan agar dinding dinding candi tidak longsor.

Sejarah Candi Borobudur – Pebangunan Tahap keempat

Setelah berbagai macam perubahan pada konstruksi utama, berikutknya ada perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan terluar, perubahan tangga dan pelengkung atas gawang pintu, serta pelebaran ujung kaki.

Konstruksi dan struktur Candi Borobudur

Pembangunan, sejarah candi borobudur

i.ytimg.com

Candi Borobudur merupakan sebuah kumpulan stupa yang membentuk pola Mandala besar. Mandala sendiri adalah lambang alamsemesta dari ilmu kosmologi Budha. Tidak hanya kosmologi, konstruksi Candi Borobudur yang berundak atau bertingkat menggambarkan tingkatan alam pikiran dala ilmu ajaran budha.

Candi Borobudur bagaikan kitab yang meggambarkan sepuluh tingkatan yang harus dilalui untuk menjadi seorag budha. Bagian dasar candi ini berbentuk bujursangkar dengan ukuran 123 meter (404 ft) pada tiap sisinya. Bangunan ini memiliki sembilan teras, enam teras terbawah berbentuk bujur sangkar dan tiga teras teratas berbentuk lingkara

Ada tiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha adalah:

Bagian Candi Borobudur – Kamadhatu

Bagian palig bawah dari Candi Borobudur disebut melambangkan Kamadhatu, sebuha dunia yang masih dikuasai oleh “Kama” yang berarti “Nafsu rendah” .  Bagian kamadhatu ini dibuat dengan tumpukan batu yang berlapis lapis untuk menutupi pondasi candi. Hal tersebut diperlukan untuk memperkuat pendasi candi yang rawan.

Pada bagian kaki atau pondasi ini. terdapat relif relif yang tertutup sejumlah 160 panel yang menceritakan tentang Karmawhibagga. Bada bagian tertetu dari candi ini disisihkan dan sengaja terbuka agar pengunjung dapat melihat sebagian kecil relif yang tertutup bebatuan. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memiliki volume 13.000 meter kubik.

Bagian Candi Borobudur – Rupadhatu

Berikutnya empat undak undakan yang mengelilingi bagian puncak. Dindingnya dihiasi dengan relif relif dengan jumlah 1300 gambar. pajang relif tersebut mencapai 2,5 KM dengan 1212 panel yang terukir. Undak undakan ini membentuk lorong yang mengitari bagian puncak. bagin ini disebut Rupadhatu.  Rupadhatu diartikan sebagai dunia yangsudah mapu memisaka diri dari nafsu namun masih terikat dengan bentuk fisik dan rupa. Tingkatan Rupadhatu meggambarkan alam antara alam bawahsadar dengan alam atas.

Pada Bagian ini banya patung patung budha yag terletak di setiap pagar pada setiap undak undakan. Diketahui ada sekitar 432 arca Budha yang terletak didalam relun-relung yang terbuka sepajang pagar. Bagian ini jga kaya akan relif relif yang terukir sepanjang jalur Rupadhatu. Apa bila dibandingkan dengan pagar bagian bawah ada sedikit perpedaan di pagar pagarnya. Bagianpagar paling bawah pada Candi Borobudur dimahkotai Ratna sedagkan bagian bagar pada Rupadhatu dimahkotai Stupika

Bagian Candi Borobudur – Arupadhatu

Bagian paling puncak dari Candi Borobudur bernama Arupadatu. Berbeda dengan Rupadhatu yang berbentuk lorong lorong yang mengotak di setiap undak undakan yang ada, Arupadhatu berisi Stupa stupa yang melingkari stupa induk yang berada pada puncak Candi Borobudur. Tidak ada relief lagi di setiap undak undakannya.

Arti dati Arupadhatu adalah “yang tidak berupa dan tidak berwujud”. pada tinggkatan Arupadhatu menggambarkan tingkatan alam atas. Artinya adalah alam dimana manusia sudah terlepas dari hawa nafsu, bentuk, dan rupa namun belum mecapai nirwana.

Terdapat 72 stupa pada bagian puncak candi borobudur ini. Stupa stupa inidisusun secara melingkar dan berjumlah tiga bari, mengtari satu Stupa besar ata Stupa induk ditengah tenga candi bagin atas. Stupa stupa kecil yang melingkari stupa induk disusun diatas tiga teraslingkran dengan jumlah stupa 32 pada lingkar paling bawah, 24 pada lingkar ditengah, dan 16 stupa pada lingkar paling atas.

Stupa stupa tersebut didalamnya terdapat patung patug budha. Pada dua undak undakan terbawah stupa candi borobudur ini lebih besar dari bagian teratas dan memiliki lubang lubang pada setupa yang berbentuk belah ketupat. Sedangkan pada tingkatan teratas bentukya kotak. Patung patung buda yang terletak didalam kurungan stupa tersebut nampak samar samar dari luar. Seolah olah berusaha menggambarkan proses menjadi tanpa wujud.

Bagian Candi Borobudur – Stupa Utama ( Arupadhatu )

Pada puncak Candi Borobudur  ada satu stupa induk. stupa ini tidak berlubang dan tidak ada patung didlamnya. Stupa ini menggambarkan keadaan tanpa wujud yang sempurna. Setupa iduk yang tidak berpatung ini diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi yaitu kasunyatan, kesunyian dan ketiadaan sempurna. Sebuah keadaan dimana jiwa manusia sudah idak lagi terikat dengan hasrat, keinginan, bentuk da rupa serta terbebas dari lingkaran samsara.

Ketika ditemukan stupa besar ini pernah ada sebuah patung yang belum rampung berada di dalam setupa induk. Sebagian orang menganggap patung tersebut sebagai “Adhi budha”. Namun melali penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung yang benar benar diletakkan didalam sana. Patung tersebut merupakan sebuah kesalahan. dipercayai bahwa patung patung buda tidak boleh dihancurkan walau itu merupakan sebuah kesalahan.

 

Leave a Reply