fbpx

Skripship

Aku merupaka seorang mantan  mahasiswa  yang telah ditinggal lulus teman temanku. Bukan bukan karena aku malas. Tapi karena teman temanku selama ini lebih rajin ketimbang aku terutama teman teman himpunan. Terlebih nasib mereka tak se”beruntung” diriku.

Setiap mahasiswa pasti akan menghadapi sebuah tembok raksasa didepan mereka bernama skripsi. satu semester aku tinggalkan skripsi karena muak dengan lika liku yang tak berujung. Namun 1 semester berkutnya aku berhasil menyelesaikan penelitianku dengan paksaan.

Bankitnya Semangat

Ya! bukan dengan segenap kemauan namun dengan paksaan dosen dosen du jurusan maupun dekanat di fakultas. Aku memang cukup dikenal dosen dosen disana. karena aktifitasku di Himpunan dan di Laboraorium Manajemen.

Dengan terpaksa aku mulai mencari topik. lagi, lagi, dan lagi. Topik demi topik berujung pada penolakan. Kami anak anak yang “beruntung” tetap berusaha mencari celah agar topik kami dapat diterima.

Melihat kawan kawanku mulai pergi satu persatu meninggalkan kampus. Aku bertekat meyusul mereka dan menyelesaikan penelitianku yang tak tau arah ini.

Pada suatu pagi aku memutuskan untuk bimbingan. Bukan karena kemauanku tapi karena dospemku memerintahkanku datang pada jam bimbingan pagi itu. Sebagai mahasiswa yang masih membutuhkan dospem, kami tak punya kuasa untuk menolak jika masih ingin tetap selamat. Aku pun datang di pagi itu dengan polosnya tanpa persiapan apapun untuk didiskusikan.

Dospemku menanti kami di sebuah ruangan yang berisi bilik-bilik yang memisakan meja satu dengan meja lainnya. Hanya ada sebah kursi yang sengaja dikosongkan disetiap meja tesebut menghadap langsung keah pemilik meja. Seolah sekat sekat itu didisain agar dosen leluasa mengintimidasi mahasiswa

Sebutanku untuk ruangan itu adalah ruang eksekusi. Sebuah ruangan diamana mahasiswa semester tua sepertiku akan ditentukan nasib penelitiannya, disidang secara privasi dibalik bilik-bilik penutup tersebut.

Satu demi satu nama dipanggil untuk memasuki ruang eksekusi. Sedangkan aku masih berfikir apa yang harus aku sapaikan. Ditengah kebingungan itu tiba tiba seseorang menyapaku.

“Je kok baru muncul? Kapan nihh mau seminar proposal?”  Sapa seorang teman sambil menyindirku.

“Kalo tuhan menghendaki!” Jawabku sewot

“Hahahaha… Mau bimbingan apa nih?” Tanya dia saambil tertawa.

“Apa lagi kalo buka topik. Kamu ada ide kah untuk objek dan topik ?” Tanyaku berharap mendapat pencerahan.

Di menit menit terahir sebelum di panggil terjadilah diskusi yang menurutku sangat singkat. Dan tercetus topik manajemen kualitas dengan alat quality function deployment dengan objek instansi jasa kesehatan. Aku paham aka akan dipanggil terahir secara istimewa.

Panggilan terahir merupakan panggilan istimewa. Panggilan kusus yang diperuntukan  anak anak “beruntung”. Panggilan terahir juga merupakan tanda bahwa kita dianggap bermasalah. Biasanya anak anak yang dipanggil terahir adalah anak anak yang memiliki ke”istimewaan” yang tidak dimiliki anak lain. Tak lama kemudian namaku dipanggil.

Aku masuk kedalam ruangan sang eksekutor tersebut dan ak duduk di kurisi yang telah disediakan. Di dalam aku melihat seseorang dengan mata yang menyala nyala menyorotiku setelah satu semester tak pernah menunjukan batang hidungku. Dia lontarkan seketika itu sebuah  kata tanya berjuta makna.

“Bagai mana?” Tanya dia tanpa basa basi dengan sorotan mata yag serius.

“Jadi begini bu……….” Jawabku sepontan seoalah aku sudah paham apa yang ditertanyakan.

“Ya sudah kamu lanjutkan, coba kamu tanya kakak tigkat yang setema denganmu” jawab disa singkat.

“Baik bu terimakasih.” Jawabku sambil mencium tangan beliau sekaligus meniggalakan ruang.

Sesederhana itu aku mendapatka topikku. Berbulan-bulan aku ajukan topik  lengkap dengan jurnal jurnal internasional yang sudah aku pelajari beberapa hari sebelumnya. Sedangkan di hari itu tanpa persiapan, tanpa jurnal dan tanpa aku paham sama sekali apa yang akan aku teliti, dia menerima topikku. Ya, ak memang tak tau apa apa tentang qfd  tersebut, yang aku tau aku sudah mendapatkan topikku.

Sempro

Setelah mendapatkan topik aku mulai melakukan pra-penelitian sebagai data pelengakap pada latar belakang penelitianku. Aku konsultasikan haisil pra-penelitian beberapa kali ke dosen a agar aku  dapat mulai menlis latar. Setelah beberapa minggu lamanya barulah aku mendapat acception dari dosen a sehingga aku dapat mulai mengerakan latar belakang.

Ya! Proses yang aku hadapi dalam mendapatkan topik dan pra-penelitian bener benar terlewat lama. Entah apa yang salah pada saat itu, tapi keajaiban terjadi setelah ini. Setelah aku diizinkan mengerjakan latar belakang, aku fokus selama bebeapa hari untuk menyelesaikan proposal penelitianku. Setelah aku selesaikan barulah aku mengkonsultasikannya ke dospem.

Revisi demi revisi aku lakoni. Pada akhirnya hanya dengan 3 hingga 4  kali total tandatangan, tiba tiba aku diizinkan mengikuti seminar proposal  bersama kedua temanku yang “beruntung” sama denganku. Diantara teman temanku yang senasip denganku kami adalah yang pertama mendapat izin untuk seminar proposal setelah 1 setengah semester berlalu.

Hari kami seminar proposal sudah di tentukan. Dua hari sebelum kampus tutup libur lebaran aku bersama teman temanku seminar proposal. Kampus yang hendak tutup, gedung gedung perkuliahan sudah sepi, ruang ruang kelas kosong dan terkunci. Diantara gedung gedung mati tersebut, hanya ada 1 kelas yang terbuka khusus untuk kami pada hari itu. Itu adalah ruangan yang kami gunakan. Ruangan itu diisi oleh sebagian dari teman teman kami yang merelakan hari libur mereka untuk datang mengisi bangku bangku kosong yang ada. Dengan banku kosong yang ada kami mulai seminar proposal pada hari itu.

Hari demi hari berlalu begitu cepat rasanya setelah seminar proposal kami bertiga kala itu. Tak terasa kawan kawan kami makin jarang kami jumpai di kampus. Satu demi satu mereka wisuda dan kembali ke kampung halaman mereka untuk menjalani kehidupan mereka yang sebenarnya. Sedangka aku masih bergelut menelurusuri koridor koridor gedung perkuliahan berburu dosen dan tandan tangan.

Waktu yang mendesak semakin memaksaku untuk segera menyelesaikan tugas akhir secepat dan sebaik mungkin. Gelar Wahasiswa Semester Tua sudah disematkan dalam namaku. Aku tak ingin gelar Maba di sematkan juga dalam namaku. Bukan! Bukan Mahasiswa Baru, melaikan Mahasiswa Abadi. Ditinggal teman temaku tidak akan megurungkan niatku untuk lulus lebih cepat kali ini.

Awal Dari Segalanya

Tiga bulan setelah seminar proposal tidak terasa sudah aku lewati bersama kedua teman seperjuangaku sejak aku seminar proposal. Ya, mereka adalah teman teman yang berjuag bersama ketika seminar proposal.

Hari terair pendaftaran sidang gelombag terahir tinggal dua hari lagi. Gelisah hati semakin berkecambuk dalam dadaku hari itu. Arsip persaratan pendaftara dan tandatangan dosen belum juga aku dapatkan.

Hari itu kami di kumpulkan untuk di breaving perihal pendaftaran sidang. beruntung nasibku pada saat itu diumumkan perpajangan waktu pendaftaran sidang skripsi. Dosen pembimbigku menyarankan aku mendaftar minggu depan sehingga aku masih meiliki waktu untu mempersiapkn segala sesuatunya.

Setelah aku mendafatarkan diri, beberapa hari kemudian tibahal hari dimana karya tulis ilmiahku akan diuji. jam 11:00 aku menunggu giliran di depan ruagan pengujian. Tiga puluh menit aku menuggu belum juga namaku dipanggil. Tiba tiba keluar seorang wanita paruh baya dari ruangan tersebut.

“Lho mas, ayo mlebu! Sampean sido ujian ndak?”

“Ohh.. Iya bu maaf”

Tak disangka mereka sudah menungguku di dalam dari tadi. Untung saja mereka tidak membatalkan ujianku di hari itu.

Akupun masuk dan segera menyiapkan laptop, power point dan papper sebagai bahan presentasiku. Tak terasa ujian sudah berlangsung selama dua jam. Ini bukanlah perumpamaan. Waktu benar benar berjalan beitu cepat hingga waktu menunjjukan jam 14:00. Setelah sesi tanya jawab aku dipersilahkan menunggu hasil pengumuman di depan ruangan. Kawan kawanku menyambtku diluar memberikan support untukku.

Dengan keringat yang masih membutir di wajahku aku beristirahat sejenak dan meneguk segelas miuman selagi menunggu namaku dipanggil oleh para penguji. Tidak sampai lima menit aku dipersilahka masuk kembali. Entah apa yang merasukiku pada saat itu. Jantungku tidak berdebar sama sekali, malahan aku berusaha menahan tawa walau tidak ada sesuatu yang perlu ditertawakan. Seolah yakin aku akan lulus pada hari itu.

Seperti biasa dosen selalau suka basa basi di depan mahasiswanya ketika pengumuman kelulusan. begitu pula denga dosen pengujiku. Untuk menyatakan lulus atau tidak lulus penjang banget mukodimahnya layaknya orang khutbah aja.

Sesaat kemudian aku meninggalkan ruangan tersebut. teman temanku menunggu di depan dengan sedikit kecemasan. Dua jam ujian bukanlah waktu yang sebentar. Hal itulah yang membuat mereka cemas.

“Je gimana hasilnya? aman kan?” Tanya seorang teman lamaku.

Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala dengan senyum ceria di wajahku. Entah harus berekspresi apalagi waktu itu namun hari itu adalah hari yang berharga bagi setiap mahasiswa yang mengalaminya.

Tak hanya aku tapi beberapa teman senasib dan seperjuangan yang seminar proposal bersamaku juga lulus pada periode itu. Aku ucapkan terimakasih kepad semu unsur yang telah berkontrinusi termasuk dosen dosen yang terhormat.

Sekarang aku akan meninggaalkan kampus itu. Menghadapi dunia yang sebenarnya. Ini baru awal dari segalanya

“Terimakasih Semuanya”

Leave a Reply